[English] [Nederlands]

RINGKASAN
di
The Politics of Divine Wisdom.
Theosophy and labour, national, and women's movements in Indonesia and South Asia, 1875-1947.
Herman de Tollenaere.

ISBN 90 373 0330 7. © 1996 H.A.O. de Tollenaere, Leiden.
Penerbit: Uitgeverij Katholieke Universiteit Nijmegen, Nijmegen, 1996.
Alamat: Postbus 9102, 6500 HC Nijmegen, Belanda.
Tilpon: 243612073/243611794; Nyonya Houtvast/Tuan J. van Loon.


Politik kebijaksanaan dewata Teosofi dan gerakan-gerakan buruh, nasionalis dan wanita di Indonesia dan Asia Selatan, 1875-1947

Translation: Marek Avé

Makalah ini bukanlah sejarah lengkap tentang Perkumpulan Teosofi (PT di ringkasan ini) yang didirikan pada tahun 1875; hanya sampai tahun 1947 saja (kemerdekaan India). Ini juga tidak merupakan sejarah politik yang lengkap dari organisasi ini. Pokok makalah ini ialah sejarah tentang persangkutannya dengan beberapa masalah politik, khususnya di India dan Indonesia. Bagaimana hubungannya dengan gerakan buruh, gerakan-gerakan nasionalis dan gerakan wanita? Siapa pendukung dan lawan para teosof? Inilah yang saya selidiki dengan memakai sumber-sumber, berasal dari berbagai pendapat dalam pertentangan-pertentangan.
PT sudah agak lama ada, di banyak negara. Persatuan ini tidak begitu kecil untuk menjadi menarik dan tidak begitu besar, sehingga sulit untuk ditata. Karena itu kaitan-kaitannya dengan sejarah politik dari jaman itu dapat lebih mudah diselidiki. Saya masukkan grafik-grafik dari angka-angka yang ditemukan dan beberapa ilustrasi lain.
Bagaimanakah gambar yang diberi dalam buku sampai sekarang tentang hubungan antara aliran-aliran seperti teosofi dengan politik? Pertama pandangan okultis para teosof sering dianggap secara politik tidak relevan. Ini ternyata dari sedikitnya perhatian yang diberi kepada mereka dalam sejarah penulisan sejarah politik. Kedua mereka khususnya disangkutkan dengan sayap kiri politik: James Webb mengasosiasikan okultisme dengan `Nationalisms, Socialisms.' Daniel Bell tanpa berdasar menghubungkan `gnostic esotericism' dengan `anarchism'. Pengarang-pengarang, baik kiri maupun kanan dalam spektrum bidang politik, dan juga para pendukung dan lawan PT, sering mengemukakan salah satu dari kedua pendirian tersebut. Seusai penelitian saya ini, keduanya harus saya ragukan. Dan `nasionalisme', yang dapat diinterpretasikan secara macam-macam, saya batasi dalam keadaan pemerintah kolonial.
Bagian I meringkas gagasan-gagasan terpenting para teosof, mengenai karma, reinkarnasi, tiadanya kebetulan, astrologi, dsb... Dalam bagian ini juga digambarkan hubungan dengan bermacam agama, ilmu-ilmu pengetahuan, dan sejarah. Pada waktu para ilmiawan meragukan pandangan-pandangan agama-tradisionil mengenai manusia sebagai hasil terpenting ciptaan tuhan, para teosof mencoba memulihkannya kembali. Hal ini dijalankan melalui sebuah ajaran evolusi yang idealis, berbeda dengan ajarannya Darwin.
Bagian II merupakan tinjauan sejarah mengenai Perkumpulan Teosofi antara 1875-1947, dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah itu seperti Helena Blavatsky, kolonel Olcott, Annie Besant, Rudolf Steiner, dan C.W. Leadbeater. Dari Amerika Serikat gagasan-gagasan menyebar terutama ke Eropa Barat, Asia Selatan, dan Australia. Meskipun ada perpecahan mereka meraih puncak angka anggota 45.098 orang pada tahun 1928 di beberapa puluhan negara.
Bagian III menguraikan tentang kedudukan di, dan gagasan-gagasan mengenai masyarakat para teosof. Anggota-anggota teosof berasal dari golongan masyarakat mana? Pada umumnya dari golongan bangsawan, dunia pengusaha dan perwira-perwira. Teosofi, yang menyerukan harapan sebuah elite internasional, antara lain menjadi dukungan ideologis untuk beberapa bagian dari golongan atas, yang merasa bahwa mereka mungkin akan kehilangan hak istimewa mereka. Di India kebanyakan orang tergolong kasta Brahman; sebagai golongan pekerjaan banyak pengacara. Di Indonesia banyak orang Belanda totok, lebih banyak daripada orang Inggeris di India, yang mempunyai jabatan tinggi di pemerintahan dan kehidupan usaha. Dalam kategori `Orang Timur Asing' mungkin orang India paling banyak 20 orang, tidak ada orang Arab, dan 190 orang Tionghoa, yang menjadi anggota. Banyak orang Tionghoa dari lingkungan perwira (sipil) Tionghoa, yang pada waktu itu dihujani kritik di kalangan orang Tionghoa. Anggota-anggota Indonesia hampir semuanya bangsawan Jawa. Dua perkecualian kecil ialah Sumatera (barat), dan, baru sejak tahun tigapuluhan, Bali dan Lombok.
Dalam teori teosofi adalah untuk `seluruh umat manusia'. Dalam praktek hampir tidak ada buruh dan tani dalam daftar anggota; dan usaha untuk merubah keadaan ini hampir tidak ada. Sebagai perkecualian PT di Indonesia mengadakan dua usaha di kalangan orang tani. Pada tahun 1915 mereka berusaha menghentikan gerakan Samin, pemberontakan tanpa kekerasan di Jawa Utara, dengan mengajak mereka memeluk aliran teosofi. Hal ini tidak berhasil. Jika dibanding usaha kedua lebih lama dan lebih berhasil, pada tahun tigapuluhan dimana PT secara keseluruhan merosot sama sekali. Pada waktu itu Pemitran Tjahja, sebuah organisasi sampingan, berfungsi untuk beberapa tahun dengan hampir 1.000 orang anggota di Jawa, Bali dan Lombok.
Bagian IV sampai dengan VI membahas sejarah politik hubungan PT terhadap tiga aliran: gerakan buruh, gerakan-gerakan autonomie didalam, ataupun gerakan kemerdekaan diluar kolonialisme, dan gerakan-gerakan wanita. Aliran-aliran tersebut, kalau diberi definisi yang luas, dapat disebut gerakan-gerakan emansipasi.
Bagian IV membahas tentang hubungan PT terhadap tiga aliran dalam gerakan buruh: sosial demokrasi, komunisme dan anarkisme. Hubungan terhadap sosialisme agak bermasalah sejak permulaan, seperti dapat dilihat dalam pernyataan dasar oleh nyonya Blavatsky dalam nomor pertama majalah The Theosophist pada tahun 1879; dan komentar-komentar penolakan yang singkat dari Friedrich Engels mengenai teosofi dan aliran-aliran yang serupa.
Disini saya beri perhatian khusus mengenai pertengkaran yang tidak banyak diperhatikan dalam penulisan sejarah panitia Indië Weerbaar, yaitu antara tahun 1916-1918. Dalam petengkaran ini, mengenai diadakannya wajib militer untuk orang Indonesia, perserikatan buruh dan kaum sosialis seperti Sneevliet dan Semaoen melawan cabang PT Hindia-Belanda. Pendukung terpenting Indië Weerbaar kebanyakan jadi anggota PT atau satu arus secara politik. Hal ini sesuai dengan pandangan kaum teosof, juga di luar Indonesia, mengenai perang dunia pertama dan semua perang-perang lainnya, bahwa inilah perjuangan rohani antara kekuasaan hitam dan putih. Van Hinloopen Labberton, pemimpin PT di Hindia-Belanda, dan Sneevliet adalah dua orang Belanda yang paling banyak mempengaruhi gerakan politik Indonesia, meskipun ke arah yang berbeda.
Indië Weerbaar merupakan sengketa politik pertama di Indonesia pada abad ke-20, yang menarik perhatian masal semua golongan rakyat. Sengketa ini banyak menambah polarisasi antara kiri dan kanan di dalam Sarekat Islam, di Indonesia pada umumnya, dan menentang kekuasaan Belanda. Maka dampaknya Indië Weerbaar ternyata bertentangan dengan gagasan-gagasan pendirinya mengenai keselarasan antar golongan dan keselarasan di wilayah kolonial. Artikel-artikel politik pertama dari orang-orang yang kelak menjadi pemimpin PKI, kelak partai komunis terbesar di dunia yang tidak memerintah, seperti Semaoen, Darsono dan Alimin, ditujukan melawan anggota-anggota PT. Pada tahun 1916-7 Van Hinloopen Labberton adalah orang yang paling banyak dikritik di kalangan pers sosial-demokrat Indonesia. Pertemuan politik besar pertama di Jakarta, pada tahun 1918, ialah untuk melawan Indië Weerbaar
. Di kalangan orang-orang Indonesia yang berada di Belanda Noto Soeroto dan Sooryopoetro mendukung PT, Soewardi Soerianingrat menentang Indië Weerbaar. Kelak Soewardi juga menentang politik kaum teosof mengenai Wederopbouw. Dalam rangka ini tidak dapat diterima, seperti yang khalayak dikatakan oleh umum, bahwa kegiatannya kelak di dalam gerakan pendidikan Taman Siswa berdasarkan ide-ide PT atau Rudolf Steiner.
Sebelum tahun 1917 pada keadaan-keadaan krisis di kerajaan Tsar, seperti pemberontakan tani di Letland tahun 1905, nyonya Blavatsky dan kolonel Olcott menentang gerakan-gerakan pemberontakan. Pemerintah bolsyewik melarang cabang kecil PT di Rusia pada tahun 1919. Anggota-anggotanya keluar negeri dan membentuk satu-satunya cabang PT dalam pengasingan.
Sylvia Pankhurst, di buku lewat India, mengritik gagasan-gagasan Annie Besant mengenai ketidak samarataan masyarakat, yang berubah sejak waktu dia masih seorang sosialis dan belum menjadi seorang teosof. Hubungan dengan kaum komunis India juga tidak baik. Dari pembuangan M.N. Roy dan Shapurji Saklatvala mengritik Annie Besant; begitu juga Dange di Bombay dan Singaravelu Chettiar di Madras. Muzaffar Ahmad di Bengalen tidak menyebutnya karena disitu PT relatip lemah.
Hubungan dengan kaum Marxis Indonesia, yang membentuk PKI pada tahun 1920, pada tahun 1918 jelek. Majalah mereka menuduh kaum teosof bahwa mereka dengan nyata mendukung autoritas, yang memakai kekerasan yang kejam untuk menekan pemberontakan di Jambi, sebuah daerah minyak. Majalah juga menuduh dua orang tokoh PT, A.J. Hamerster dan kapten Christoffel, membunuh seorang kepala desa di Kalimantan dalam sebuah kasus mengenai pelecehan seksuil terhadap saudara perempuannya kepala desa. Pada tahun 1921 kelihatannya masalah pertentangan Indië Weerbaar sudah hampir dilupakan. Tetapi pada waktu itu juga muncul lagi masalah setuju atau tidak setuju dengan non-koperasi. Seperti halnya di India masalah ini tidak hanya menempatkan kaum komunis tetapi juga golongan lain, menjadi lawan PT. Pada tahun 1926 sekretaris umum Kruisheer menuduh PKI membuat komplot melawan PT. Kemudian dia menulis bahwa kaum komunis paling tidak membunuh satu anggota PT sewaktu ada pemberontakan di Sumatera Barat.
Bagian V membahas tentang hubungan PT terhadap gerakan-gerakan yang menuntut lebih banyak hak-hak nasional politik dan akhirnya kemerdekaan, di negeri-negeri dengan pemerintahan kolonial. Dalam bagian pendahuluan yang pendek dibahas ide-ide teosof tentang imperialisme. Dalam rangka imperialis banyak orang setuju dengan bentuk-bentuk autonomi. Tetapi mereka menentang kemerdekaan dengan memakai pertimbangan-pertimbangan yang bersangkutan dengan pandangan dunia.
Di Sri Lanka pengaruh PT mula-mula besar sekali tetapi kemudian cepat berkurang, karena pengaruh internasionalnya hanya sedikit. Dharmapala, yang di kemudian hari menjadi populer, bermula sebagai anggota PT. Dia tetap setia kepada ide-ide teosofi tetapi tidak setia kepada pimipinan. Walaupun Irlandia lumayan banyak berpengaruh di India dan Indonesia, tetapi PT, yang sejak 1890 giat di sini, sedikit sekali pengaruhnya di Irlandia. Sebaliknya di Islandia terdapat relatip paling banyak anggota PT, tetapi hampir tidak berarti secara internasional.
Pada permulaan abad ke-20 hubungan dengan wakil kekuasaan Inggeris di India, Lord Curzon, baik sekali. Ini terbukti dalam masalah persengketaan pembagian Bengalen pada tahun 1905. Keadaan ini berubah sewaktu aksi Home Rule yang dilakukan oleh Annie Besant pada Perang Dunia I. Pada saat dimana di India semakin banyak golongan masyarakat dilibatkan dalam politik, pengaruh PT berkurang lagi. Di Indian National Congress Annie Besant dikalahkan oleh Gandhi dan bekas anggota PT Jawaharlal Nehru, dan sesudah itu Krsna Menon. Sebetulnya pada tahun 1918 PT sudah tak berkutik lagi, meskipun nyonya Besant masih terus berusaha sampai sepuluh tahun kemudian. Antara lain dia berusaha muncul lagi dengan menyatakan bahwa politik non-koperasi tidak dapat disesuaikan dengan prinsip-prinsip spirituilnya. Anggota-anggota PT Seksi Esoteris hanya bisa tetap menjadi anggota kalau tidak setuju dengan non-koperasi. Beberapa tahun kemudian anggota organisasi teosofi Indonesia juga diberi pilihan serupa. Aliran Nasional Liberalis yang didirikan oleh nyonya Besant dan Jinnah, yang kelak menjadi Gubernur Jendral Pakistan, tidak berhasil di India. Saya memberi perhatian khusus pada tahap ini justru karena mengenai ini lebih sedikit ditulis daripada tentang Home Rule League pada tahun 1916-7.
Sepuluh tahun lamanya sejak 1916 redaktur-redaktur teosof, seperti H.J. Kiewiet de Jonge, Raden Djojosoediro dan Tabrani memimpin harian-harian pro pemerintah, umpamanya Bataviaasch Nieuwsblad, Pemitran dan Neratja. Haji Agoes Salim juga pernah sejenak menjadi anggota aktip PT dan bekerjasama di majalah bulanan Pewarta Théosofie.
Pada tahun 1918 Van Hinloopen Labberton bersama dengan tiga anggota PT lainnya masuk Volksraad, parlemen surogat Hindia-Belanda. Pada awal 1921, 5 dari 39 orang di Volksraad, menjadi anggota PT, termasuk Walikota Jakarta, Mr. A. Meijroos. Tetapi sama seperti halnya di India puncaknya sudah liwat. Baik pendukung kolonialisme garis keras maupun kaum revolutioner mencurigai Labberton. Akibatnya isolemen dan akhirnya Labberton berangkat ke Belanda.
Annie Besant di India menekan persatuan supra-regional; di daerah Tamil Nadu regionalisme berkaitan dengan lawannya dari golongan non-Brahman. Di Indonesia duduk perkaranya lain. Hubungan PT yang terbaik berarah kepada golongan-golongan bangsawan di dua daerah. Pertama kaum nasionalis Jawa di kalangan majalah Wederopbouw milik Raden Mas Soetatmo Soeriokoesoemo, salah satu aliran Budi Utomo. Wederopbouw bisa terbit berkat bantuan Pangeran Mangkoe Negoro VII. Wederopbouw menuntut sebuah negara Jawa, anggota liga Bangsa-bangsa; dan juga menuntut pemugaran kebudayaan bangsawan Jawa. Berdasarkan ucapan Annie Besant dan Bolland, tokoh falsafah yang sering dikutip di majalah Theosofisch Maandblad voor Nederlandsch-Indië, Soeriokoesoemo secara prinsip menentang demokrasi. Sesudah menjadi anggota PT Annie Besant berubah pikiran mengenai masalah hak umum untuk memilih. Baik didalam organisasi mereka maupun di bidang politik kaum teosof berpikir memakai patokan hirarki dan kekuasaan. Begitu juga sejarahwan Jepang Tsuchiya melihat bahwa ide-ide Soeriokoesoemo merasuk sebagai faktor yang membatasi demokrasi di Indonesia sejak 1959. Tetapi dalam hal ini Tsuchiya tidak menyebut hubungannya Soeriokoesoemo dengan PT. David Reeve menganggap partai pemerintah Golkar dipengaruhi oleh teosofi. Karena itu sifat-sifat autoriter dalam ide-ide teosofi lebih banyak pengaruhnya di Indonesia daripada di India; meskipun reputasi PT di India sesudah tahun 1945 justru lebih baik daripada di Indonesia.
Kedua PT juga ada hubungan dengan Sarekat Adat Alam Minangkabau pimpinan Datoek Soetan Maharadja di Sumatera. Sebelumnya Maharadja melontarkan banyak kritik terhadap pemerintahan Belanda dan bangsawan dalam hariannya Oetoesan Melajoe dan majalah wanita Soenting Melajoe. Sejak tahun 1916 mulai ada perubahan. Sejak itu dia dan pembantunya Abdoel Karim terus menulis artikel-artikel tentang teosofi. Kaoem Moeda (Islam modernis), sosialisme, feminisme berjuang dan semua bentuk nasionalisme Indonesia, semuanya diganyang habis oleh mereka. Oetoesan Melajoe dan Wederopbouw sering berjalan paralel, dan tentu hal ini dihargai oleh Wederopbouw.
Hubungan dengan organisasi-organisasi lainnya seperti Sarekat Islam semakin sulit karena organisasi-organisasi tsb. makin ditujukan kepada golongan rakyat luas dan garis politiknya makin tajam. Sudah sejak 1915 para anggota sayap kiri Sarekat Islam dan harian Pantjaran-Warta di Jakarta (dengan a.l. Soekirno, Marco, Goenawan, Alimin dan Abdullah Fatah), terang-terangan bersikap anti-teosofi. Fatah, dari serikat buruh minyak tanah, menyerukan agar kaum muslim dan kaum sosial demokrat mengadakan aksi bersama melawan ide-ide teosofi. Tahun 1917 Marco dijatuhi hukuman penjara setelah mempublikasikan berbagai karikatur, artikel dan sebuah sajak untuk melawan wajib militer. Hubungan dengan sayap kanan Sarekat Islam (Djojosoediro, Abdoel Moeis, hadji Agoes Salim) berlangsung baik hingga akhir 1918. Sayap ini terwakili luas dalam pemerintahan nasional, Centraal Sarekat Islam. Disini pengaruh PT lebih besar daripada di tingkat daerah. Pemerintah melarang hubungan langsung antara tingkat nasional dan tingkat lokal. Dengan demikian hubungan pribadi misalnya antara Labberton yang aktif dan Djojosoediro dapat mengambil peranan besar; kendati ide-ide yang berbeda mengenai misalnya hirarki.
Pada tahun 1919 hubungan dengan Budi Utomo tidak sebaik sepuluh tahun sebelumnya, seperti ternyata pada aksi mogok siswa-siswi sekolah guru teosofi di Jakarta. Pada tahun 20-an bekas anggota PT seperti Salim dan Soerjopranoto terang-terangan menjadi anti-teosofi di dalam Sarekat Islam. Hubungan dengan Indische Partij, yang kemudian dinamakan Insulinde dan Nationaal Indische Partij, tidak baik. Hubungan dengan Perhimpoenan Indonesia, yakni perhimpunan orang Indonesia di Belanda, akhirnya memburuk. Upaya untuk mempengaruhi angkatan anggota-anggota baru, seperti Mohammad Hatta, gagal. PI berpendapat bahwa PT: `adalah bahaya besar bagi perjuangan nasional kami.' Walaupun Sukarno diasuh dengan ajaran-ajaran teosofi, dan membaca buku-buku politik pertamanya di perpustakaan PT di Surabaya, partainya, Partai Nasional Indonesia, akhirnya sependapat dengan PI.
Bagian VI membahas hubungan dengan gerakan wanita. Baik kelompok yang terang-terangan pro maupun yang terang-terangan anti merupakan minoritas dalam aliran teosofi. Annie Besant mewakili posisi antar golongan. Sebelum menjadi anggota TV, ia dianggap sebagai seorang feminis yang terang-terangan pada jamannya. Namun seperti dalam hal-hal yang lain, ia juga berubah menjadi konservatif sewaktu dia cepat muncul sebagai pemimpin TV. Seperti dalam hal-hal yang lain juga, sesaat sebelum pecahnya perang dunia pertama pandangannya membalik agak progresif lagi, juga mengenai kaum wanita di India. Baik dalam hal hak untuk memilih bagi kaum wanita disana maupun dalam hal pendidikan untuk anak perempuan, juga di Sri Lanka, ada kemungkinan bahwa dia memberi pengaruh yang merangsang dan hal ini dapat juga dibuktikan. Dalam periode sekitar tahun 1915 PT di Indonesia ada sedikit hubungan dengan gerakan wanita Belanda, sejauh mana yang saya dapat selidiki, tetapi tidak ada hubungan dengan gerakan wanita Jawa.
Pada tahun 1914 di Inggeris dan tahun 1920 di India Annie Besant dikritik bahwa dia tidak cukup turut serta dalam gerakan wanita. Pertentangan terhadap majalah-majalah wanita di Indonesia pada tahun 1918-20 berlangsung lebih lama, majalah-majalah tersebut menuduh kaum teosof disekitar Datoek Soetan Maharadja konservatif.
Tahun 1920-1945 merupakan jaman kemerosotan bagi gerakan-gerakan wanita pada umumnya diseluruh dunia,lain halnya dengan gerakan-gerakan buruh dan anti-kolonial. Perselisihan dengan gerakan wanita yang terjadi sejak 1914, tidak menimbulkan pemburukan hubungan seperti pada gerakan-gerakan lain.
Hubungan dengan dua gerakan lain menjadi buruk waktu pengikut mereka menjadi lebih masal, dan golongan-golongan masyarakat yang tidak ikut serta dalam TV, mengambil peranan lebih penting. Di Indonesia sengketa sengit terjadi, sejak 1916, lebih dulu dengan gerakan buruh daripada dengan gerakan nasionalis. Di India sebaliknya sejak 1918 sengketa dengan gerakan nasionalis muncul jauh lebih dahulu. Berhubung dengan keadaan di Indonesia dimana gerakan-gerakan buruh lebih pesat maju kekuatannya daripada gerakan nasionalis (Sarekat Islam terdiri dari beberapa gerakan yang bersatu), sebaliknya dengan keadaan di India. Pertentangan dengan gerakan nasionalis di India jelas mempengaruhi keadaan di Indonesia. Pimpinan PT internasional berkedudukan di India. Sebaliknya Indonesia tidak mempengaruhi hubungan dengan gerakan buruh di India, sejauh mana yang saya dapat selidiki. Pengetahuan bahasa mungkin menjadi faktor dalam hal ini: bahasa Inggeris dan Sanskerta lebih dikenal di Indonesia, dibanding bahasa Belanda dan Melayu di India.
Asumsi mengenai `sifat apolitik' PT ternyata tidak betul. Baik Annie Besant maupun penentang-penentangnya seperti Perhimpoenan Indonesia, tidak membenarkannya. Memang betul bahwa PT di Indonesia lebih bersifat apolitik pada tahun tigapuluhan dibanding pada jaman sebelumnya. Hal ini tidak khas untuk negeri-negeri lain: walaupun pengaruh politiknya sudah menurun di India, ketua Arundale masih berusaha untuk memperbaiki keadaan.
Hal lain yang menentang asumsi tersebut ialah bahwa banyak kaum politisi di manca negara menjadi anggota PT, atau dipengaruhi oleh PT; ataupun menganggap perkumpulan tersebut cukup penting untuk mengambil sikap.
Mengenai asumsi tentang hubungan terhadap khususnya politik sebelah kiri: James Webb sendiri menunjuk kaitan antara okultisme dan monarkisme konservatif Perancis; sebaliknya daripada ucapannya mengenai `Nationalisms, Socialisms'. Buku ini membahas pendapat ini secara lebih relatif.
Pada satu pihak terdapat tokoh-tokoh seperti Annie Besant, Rudolf Steiner, M. Reid bekas partai buruh Australia yang kemudian menjadi senator sayap kanan, bekas orang anarkis Belanda Van Steenis, Datoek Soetan Maharadja, nyonya A.P. Dekker-Groot, dan kalau sebutan A.J. Resink memang betul, D. van Hinloopen Labberton. Mereka menjadi anggota PT, kira-kira pada waktu yang sama dimana mereka bergeser dari kiri ke kanan dalam spektrum politik. Pada pihak lain tokoh-tokoh seperti Jawaharlal Nehru, Krsna Menon, M. Hatta, S.A. Wickremasinghe, dari pemimpin PT Ceylon sampai menjadi pemimpin partai komunis Ceylon, dan Krishnamurti menjauhkan diri dari suasana teosofi bersama dengan perkembangan ke kiri. Sesudah dia menjadi anggota PT A.P. Sinnett menulis lebih positif tentang orang India dalam harian The Pioneer (walaupun dia tetap keras menentang sosialisme). Mungkin masih lebih banyak contoh-contoh mengenai perkembangan-perkembangan ke arah ini. Tetapi ini terbatas kepada pendapat terhadap elite-elite non-Eropa, yang dianggap `bangsa Aria'; pendapat terhadap umpanya penduduk desa Jawa tidak diperhitungkan disini.
Untuk Perkumpulan Teosofi periode 1913-1918 merupakan jaman yang relatif progresif (khususnya di India) dan sekaligus yang sangat berpengaruh. Sesudah itu kedudukan semula hilang. Kemerosotan cepat berlangsung, meskipun pimpinan PT berusaha mempertahankan pengaruhnya pada tahun 1920 dan seterusnya. Pertahanan pengaruh menjadi sulit waktu masyarakat India dan Indonesia dari lapisan luas terlibat dalam gerakan politik, baik di negeri mereka sendiri maupun di Inggeris dan Belanda.
[kembali]